Barakah, Shidq, & Jujur


“Akankah ada barakah dalam pernikahan kita?”

“Akankah ada barakah dalam perjuangan dakwah kita?”

“Akankah ada barakah dalam kesungguhan jihad kita?”

“Akankah ada barakah dalam perjalanan hidup kita?”

“Akankah ada barakah dalam ibadah kita?”

Memperkuat kembali landasan niat, visi dan cita-cita.

Meneguhkan kembali perjuangan.

***

Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang benar, menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah; maka di antara mereka ada yang gugur. Dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu- nunggu[1208] dan mereka tidak merobah (janjinya), (Q.S. Al Ahzab:23)

[1208]. Maksudnya menunggu apa yang telah Allah janjikan kepadanya.


“supaya Allah memberikan balasan kepada orang-orang yang benar itu karena kebenarannya, dan menyiksa orang munafik jika dikehendaki-Nya, atau menerima taubat mereka. Sesungguhnya Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Q.S. Al Ahzab:24)

Ustadz Sa’id Hawa, dalam bukunya tazkiyatun Nafs, mengintisarikan Ihya’ ‘Ulumuddin karya Imam Al Ghazali. Beliau menggambarkan proses menjadi orang shadiq, orang yang benar. Prosesnya ada empat:

1. Shidqun Niyah(benar dalam niat)

2. Shidqul ‘Azm (benar dalam tekad)

3. Shidqul Iltizam (benar dalam komitmen)

4. Shidqul ‘Amal (benar dalam amal/proses kerja)

Mari coba kita refleksikan proses menjadi orang benar ini. Jikalau Ash Shidq itu berarti kebenaran, kejujuran, maka yang pertama akan tampak sebagai gejala keberkahan adalah di saat kita jujur dan benar dalam bersikap pada Allah dan manusia. Insyaallah dengan demikian keberkahan itu semakin dekat.

♥♥♥

Ada kisah seorang sahabat di masa Rasulullah. Ketika pertempuran di masa Rasulullah. Ketika pertempuran berakhir, rasulullah memberikan padanya bagian dari rampasan perang. Tetapi dia menolak dan berkata, “Demi Allah! Bukan untuk ini saya berjuang bersama engkau. Saya berjuang bersamamu agar saya terkena anak panah di sini lalu saya mendapati janji surgaNya!”. Dia menunjuk pada tenggorokannya. Setelah sahabat ini beranjak, Rasulullah bersabda, “ Jika dia jujur pada Allah, Allah akan memenuhi kata-katanya!”

Benar. Ketika perang usai, sahabat ini ditemukan dalam kondisi syahid dengan anak panah menancap di lehernya. Shadaqallah, wa shadaqa Rasulullah.. Apa yang kita ambil dari kisah ini? Setidaknya, saya belajar bahwa, ketika kita jujur pada Allah atas target-target kita, Dia akan menggenapkannya untuk kita. Pasti.

Man jadda wa jadda”

Disarikan dari buku “Saksikan bahwa Aku Seorang Muslim” karya Salim A Fillah, Bagian Keempat: Menenun jalinan Cinta, Sub Bab: Nomor Dua, dengan beberapa edit&perubahan. (Semoga beliau mendapatkan keberkahan dari tulisan dakwahnya).

***

sbasmJika ingin tahu kisah lengkapnya Baca aja buku “Saksikan bahwa Aku Seorang Muslim”, (Buku yang mencerdaskan)😀

OOT(Out of the topic)

Dalam beberapa artikel yang saya baca tentang kecerdasan untuk meraih kesuksesan. Ada peranan penggunaan otak. Sesuai proses di atas, ada kerjasama antara otak kanan dan otak kiri. Dimana otak kanan yang berkarakter (kreatifitas, intuisi, imajinasi, fantasi, spiritualitas) dan otak kiri yang berkarakter, analitis, mendalam, urut, tertib. Dimulai dengan niat yang merupakan sebuah visi, hasil pengkristalan dari imajinasi. Benar tekad. Kemudian dilanjutkan dengan komitmen dan berproses kerja yang benar. Menikmati proses, dan sekaligus berikhtiar mempermudah segala kesulitan. Kerja sama keduanya akan membuahkan hasil yang luar biasa.

One thought on “Barakah, Shidq, & Jujur

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s