Mengobarkan Spirit yang Padam (bagian 2)


Mengobarkan Spirit yang Padam (bagian 2)

Dalam temaram cahaya bulan kulihat persawahan padi yang sudah menguning. Oh rupanya sudah musim panen tiba. Sepeda motor berbelok ke kiri dan di pertigaan lurus kemudian kiri lagi. Jalan ini, ya masih sangat jelas dalam ingatanku. Ini jalan menuju rumahku. Di bagian dalam sudah gelap. Sepertinya masjid sudah ditinggalkan jamaah subuh. Hanya ada empat anak perempuan yang masih betah mengaji di bagian serambi masjid. Alangkah senangnya, di masjid ada adik-adik santri yang mau mengaji walaupun hanya tersisa empat orang.

Hatiku semakin berdebar-debar, kuingat masa-masa dulu ketika aku sedang mengaji di masjid ini. Masjid Baitul Muttaqin namanya. Masjid yang telah menajadi saksi dan sahabat sejak aku masih kecil, masjid itu sudah menjadi rumah bagiku. Bagaimana nasibmu kini, semoga engkau masih kokoh berdiri, menemani hamba-hamba yang muttaqin, seperti namamu, Masjid Baitul Muttaqin.

Suasana masih sepi, dan di atas sana masih ada cahaya bulan tanggal 18, walaupun tampak separuh saja namun masih terang dengan cahayanya yang indah.

*****


Kamis 15 Januari 09

Sungguh benar kasih sayang orang tua tak pernah berkurang bahkan selalu bertambah. Itulah yang kurasakan ketika aku bertemu kedua orang tuaku saat baru menginjakkan kaki di rumah. Setelah semalam aku naik kereta kini pagi ini aku sudah berada di rumah. Setelah bersalaman dan kucium tangan dan pipi beliau. Terasa kulitnya yang berbeda, sudah tidak sehalus dulu lagi. Namun tak ada yang berkurang sedikitpun dari sikap kasih sayangnya, bahkan semakin kuat. Dari pancaran wajahnya, dari pandangan matanya, dan dari dalam hatinya kulihat ada kerinduan yang sangat mendalam. Perlahan kelopak matanya terlihat basah dan berbinar-binar. Ada kerinduan yang telah ditahan selama berbulan-bulan. Beliau bertanya, “Apa kabarmu Nak? Kami disini selalu mendoakanmu. Kamu sakit ya?”

Kok Ibu tahu ya, kalau aku sedang kurang sehat. Padahal aku belum memberi tahu keadaanku. Kepulanganku ke kampung halaman kali ini memang karena sudah sangat rindu ingin kembali merasakan kasih sayangnya. Aku juga ingin memulihkan kembali kondisi kesehatanku setelah sakit selama seminggu. Aku ingin mendapatkan spirit baru setelah sekian lama merasa lelah berjuang, jenuh dengan rutinitas kuliah. Aku kembali ingin memohon doa restunya.

“Iya maafkan aku Bapak-Ibu, aku kurang bisa menjaga kesehatan. Mohon maaf belum bisa berbuat banyak untuk membalas kebaikanmu.”

*****

Aku anak pertama dari tiga bersaudara. Suatu amanah plus tanggung jawab yang cukup besar sebagai anak sulung. Saya bersyukur, walaupun orang tua bekerja sebagai petani namun beliau sangat mendukung pendidikan anak-anaknya. Beliau selalu berjuang bekerja keras untuk mencari nafkah membiayai keluarga dan membiayai sekolah saya beserta dua orang adik. Pengorbanan yang luar biasa dari orang tua. Teringat olehku masa-masa ketika aku akan lulus dari SMA 1 Kebumen, beliau menanyakan padaku akan meneruskan sekolah dimana. Beliau menghargai keinginanku untuk kuliah dan memberi kebebasan mau mendaftar dimana saja. Tapi ada satu keinginannya agar saya memilih kuliah di sekolah kedinasan. Namun beliau tetap menghargai keinginanku untuk kuliah di ITB karena kuliah di Arsitektur sudah menjadi cita-cita sejak kelas 1 SMA. Dan salah satu perguruan tinggi favoritku adalah ITB. Mereka telah memberi kebebasan padaku untuk memilih. Namun aku juga harus bertanggung jawab, aku bertekad takkan menyia-nyiakan kepercayaan yang telah diberikan.

Sampai akhirnya berita yang mendebarkan itu pun tiba. Aku diterima di jurusan Teknik Arsitektur ITB, jurusan yang menjadi pilihan pertama SPMB. Betapa gembiranya aku melihat berita itu, pintu gerbang untuk menggapai cita-cita menjadi arsitek telah terbuka. Orang tuaku turut gembira bercampur sedih karena belum mempunyai biaya untuk daftar ulang yang begitu besar, belum tahu harus mencari kemana. Beberapa hari beliau berusaha mencari biaya/pinjaman tetapi belum berhasil. Beruntung ada salah satu kerabat yang mau meminjamkan uangnya. Alhamdulillah, akhirnya aku dapat masuk kuliah di jurusan Arsitektur, biaya satu semester pun terbayar. Usaha dan perjuangan orang tuaku telah menambah semangatku. Aku sangat terharu atas pengorbanannya.

***

Kini aku sudah memasuki semester delapan. Sudah hampir empat tahun aku meninggalkan kampung halamanku, berjuang menimba ilmu di kota Bandung. Kepulanganku kali ini ada kaitannya karena ada suatu keputusan yang cukup besar yang harus segera dicapai. Suatu keputusan yang akan menentukan arah rencana studiku. Dan untuk jangka panjang juga cukup mempengaruhi rencana masa depan.

Setelah lulus semester tujuh, ada beberapa pilihan yang harus kuambil. Pilhan untuk mengambil TA di semester 8 atau mengambil TA di semester berikutnya. Ada sedikit keraguan mengapa aku kurang yakin bisa melakukan TA di semester 8. Pertama kondisi fisik yang belum pulih dari sakit setelah berjuang keras untuk mengerjakan semua UAS di semester tujuh. Kedua adalah kecemasan karena merasa takut ada beberapa mata kuliah yang tidak lulus. Namun yang masih menjadi ppertimbangan lainnya yaitu masalah dana. Karena untuk melakukan TA ini juga diperlukan dana. Diantaranya ada kebutuhan buat survey, mencetak gambar, membuat maket dll.

Beberapa hari aku merenung, berpifikir dan meminta pendapat serta doa dari orang tua, Guru Ngaji serta sahabat sejatiku. Saat setelah shalat berjamaah di Masjid saya gunakan untuk bersilaturahim dengan Mbah Ismungin, Guru ngaji saya. Selain itu hal yang sangat menggembirakan ketika aku bisa berdiskusi banyak dengan dan Lik Zakari, seorang Kakak yang juga menjadi sahabat sejati sekaligus Guru ngaji. Beliau telah banyak memberi pencerahan padaku. Kadang kami berdiskusi tentang banyak hal, tentang kondisi keislaman di kampung kami. Dan kadang juga berdiskusi tentang hal-hal yang dianggap oleh sebagian orang sebagai hal yang remeh/ kecil.

Motivasi Hidup untuk apa?

Apa yang istimewa dari hidup itu sendiri?

Siapakah orang-orang yang beruntung dengan kehidupan ini?

Siapakah orang yang merugi dengan kehidupan ini?

Siapakah orang yang sukses itu?

Hidup memang penuh rahasia. Rahasia membuat hidup ini lebih hidup. Bukan hidup yang biasa-biasa. Banyak sekali kejadian yang diluar kuasa kita. Apa yang terjadi hari ini dan semua detail kejadiannya tidak bisa kita ketahui 5 tahun yang lalu, 3 tahun yang lalu, setahun yang lalu bahkan sehari yang lalu.

Sangat mudah bagi Allah untuk membelokkan rencana seorang manusia. Contoh pengalaman nyata, ketika beliau sudah merencanakan setelah lulus kuliah akan bekerja di kota kelahiran, kemudian mencari jodoh dan menikah dengan seseorang perempuan. Betapapun beliau sudah berusaha sekuat mungkin untuk mencapai semua itu, tapi takdir berkata lain. Beliau tidak diterima bekerja di sebuah kantor padahal prosesnya tinggal selangkah lagi. Beliau tidak jadi menikah padahal sudah melakukan proses ta’aruf dengan seseorang perempuan. Sekarang beliau sudah diterima menjadi Guru di Kalimantan Timur, mejadi seorang PNS. Ini bukanlah kesempatan yang mudah, disaat banyak orang berbondong-bondong mendaftar PNS, bahkan mungkin pengorbanannya juga sangat besar. Namun mengapa beliau yang terpilih? Tentu ada skenario dari Allah.

Menurut sharing beliau, dari apa yang sudah beliau ikhtiarkan untuk menjalani kehidupan ini, beliau memberikan beberapa hal yang tetap beliau ikhtiarkan untuk istiqomah menjalaninya. Diantaranya:

  1. Taat Pada Allah (konsep Hablumminallah yang baik)

  2. Berbuat baik pada orang lain karena Allah, (konsep Hablumminannas yang baik)

  3. Menikmati proses, tetap sigap melihat & membuat peluang. Tidak terburu-buru ataupun bermalas-malasan.

Sedangkan beberapa pesan dari Mbah Ismungin, lebih kepada Istiqomah untuk menjaga ibadah, baik ibadah wajib maupun ibadah tambahan; shalat malam. Tiap malam bacalah Al Quran. Karena dengan menjaga itu semua, maka insyaAllah perbuatan kita juga akan terjaga baik karena dibimbing Allah.

Alhamdulillah, Allah telah berdialog dengan caranya yang indah. Lewat hamba-hambanya yang sholeh. Allah telah mencerahkan dari segala perasaan negatifku. Semoga hati ini tetap terbuka pada perasaan-perasaan positif.

Dan kini aku memilih untuk mengambil TA di semester delapan ini. TA ku mengambil tema tentang perancangan sekolah. Aku ingin merancang sekolah penuh kreatifitas dan disesuaikan dengan potensi alam di Indonesia. Sebuah Sekolah Alam. Aku bertekad mengamalkan ilmu untuk kebaikan. Semoga bisa menjadi orang yang bermanfaat bagi sebanyak-banyak umat. Apapun yang terjadi aku akan berjuang dengan sepenuhnya agar bisa berhasil. InsyaAllah. Semoga berhasil menuju puncak-puncak kemenangan. Di sinilah sekarang aku berjuang. Aku harus lebih sungguh-sungguh, melakukan persiapan yang baik, usaha, doa dan tawakal. Salah satu impianku yaitu lulus wisuda bulan Oktober Tahun 2009. InsyaAllah.

*****

Bismillahirrahmanirrahim.

Atas nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang

4 thoughts on “Mengobarkan Spirit yang Padam (bagian 2)

  1. bismillah

    kabarku baik teman. mas halim sendiri gimana, sehat to..
    skrng lg sibuk apaan temn ku, tugas akhir ya…woo keren…
    semangat ya…
    do the best…yeah…

  2. assalamu’laykum sobat….
    wah prjuanganmu hebat…q salut padamu
    tetaplah semangat teman qm pasti bisa
    bersama kita bisaaa….yeah…
    good luck Halim…you are the best

    from arif nurkhamid(ayip)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s