Pulang Kampung; Mencari Spirit yang Hilang (I)


Rabu 14 Januari 2009

@ Stasiun Cimahi,

Pulang sendiri, naek kereta, sepi, membosankan, kurang asyik. Itulah bayangan awal ketika aku memutuskan untuk pulang ke Kebumen malam ini juga.

Ada apakah gerangan?

Mengapa tiba-tiba sang pelaku utama pemilik blog ini memutuskan untuk pulang menemui orang tuanya?

Ada feeling apa?

Ada keperluan apa?

Gak tau kenapa tiba-tiba aku memutuskan pulang ke Jawa, setelah sehari menyelesaikan UAS.

Tapi ada kejadian spesial yang tak terduga.

Mau tau?

Simak aja liputannya, bersama “petualangan Sang Pengembara” (ha..ha… lagi menirukan gaya presenter acara invotaiment TV)

Sore, tiba-tiba ada telepon dari seorang Kakak yang juga menjadi sahabat sejati sekaligus Guru ngaji. Beliau juga pulang ke Kebumen dari Kalimantan, Sebelumnya ke Jogya dulu naek pesawat, maklum di Kebumen belum ada bandara. Sore ini beliau sedang dalam bus menuju rumah. Benar-benar tak terduga, ketika aku memutuskan untuk pulang. Bayangan awal bakalan sepi di rumah, sepi juga diperjalanan. kini benar-benar berbalik 180 derajat dari perkiraanku. Kejadian yang tak terduga juga ketika kereta berhenti dan menaikkan penumpang di Stasiun Cimindi, tiba-tiba bertemu Lilik Panut yang juga mau ke Jawa. Beliau adalah kerabat dekat saudara dari pihak bapak. Beliau sedang ada keperluan di Bandung.

Aku suka pulang dengan kereta malam, karena alasan: pertama murah, kualitas juga bagus, bisa berhenti di Stasiun Gombong, bisa beristirahat(tidur), gak pusiing. Tapi semalam aku sangat lelah, kondisi badan juga belum pulih sehabis sakit, mata udah gak bisa diajak kompromi lagi. Yawdah, kupejamkan saja mataku tak menghiraukan lagi riuh ramainya orang berjualan di kereta. Dan sesekali aku membuka mata, mengecek kereta sudah sampai di kota mana. Aku gak mau kebablasan lagi. Dulu pernah sekali kebablasan, Saking ngantuknya, baru terbangun ketika kereta sudah mau berangkat padahal sudah nyampai di Stasiun Gombong. Yach…. akhirnya baru bisa turun di stasiun kebumen kota. Lebih jauh lagi.

Kereta tiba di Stasiun Gombong pukul 04.06 WHP(Waktu HP) Hari Kamis tanggal 15 Januari 2008.

Dan saat itu tibalah,,,,

Saat banyak orang laki-laki bertubuh besar perkasa, menyambut kedatangan orang yang baru saja keluar dari pintu kereta.

“Mas mau pulang kemana Mas?”

“Puringnya sebelah mana Mas?

“Sitiadi ya?” (Pertanyaan yang sok tahu, gerutuku)

itulah pertanyaan yang dikatakan berulang-ulang sampai keluar pagar stasiun bahkan sampai jalan pun mereka masih gigih untuk berjuang mencari calon penumpang. (Mereka adalah tukang ojek stasiun Gombong)

Namun aku tak tergoda oleh penawaran mereka sedikitpun. Aku terus melangkahkan kaki menuju sebuah angkot. Duuh… maaf ya aku lebih memilih angkot, karena naek angkot lebih murah, memang risikonya agak lambat dikit.

Angkot Puring-Gombong berwarna merah dan orange, seorang bapak sopir dengan wajah yang sudah berumur sekitar 40 tahun, wajahnya tenang tak terlihat galak ataupun emosional. Sudah ada enam penumpang yang duluan masuk angkot. Satu keluarga lengkap ;Bapak, ibu dan dua orang anak(menurut program KB), Seorang Ibu dan seorang pemuda. Kemudian menyusul aku dan Lilik memasuki angkot. Dan satu lagi seorang Bapak. Pak Sopir belum mau berangkat ia ingin menambah penumpang sampai mobilnya penuh sesak. (sudah menjadi kebiasaan umum sopir angkot :p ) Sampai setengah jam berlalu, bahkan sampai kereta selanjutnya tiba, tak ada satu orang penumpang pun memasuki angkot.

Pak Sopir berlapang hati menjalankan angkotnya. Sekitar dua ratus meter berjalan, angkot tiba-tiba berhenti. Ada apa gerangan? Oh ternyata ada seorang nenek tua. Subhanallah, dia bukan sembarang nenek tua seperti kebanyakan pensiunan. Ia masih perkasa, dan sekarang mau berangkat ke pasar. Wah lihat saja dagangan yang dibawanya! Ada empat ember besar berisi tahu. Dan sebuah tas. Namun masih ada lagi, barang-barang dagangan lainnya ditaruh di atas angkot. Wah, luar biasa! Mengapa dengan umur beliau yang sudah setua ini, beliau masih sehat? Masih semangat untuk melakukan aktifitas berdagang di pasar. Aku yakin ada sesuatu yang istimewa. Tak hanya beliau saja, tak jauh dari kehidupanku sehari-hari, atau bahkan di lembaga pengajian yang sering kuikuti ada saja orang tua yang masih bersemangat berjuang gigih melakukan berbagai aktifitas yang membutuhkan tenaga besar. Mereka tulus, bahkan kadang sedikit kecewa jika ada yang melarang mereka beraktifitas. Ada suatu kekuatan yang luar biasa yang mereka miliki. Subhanallah…. aku jadi malu sendiri jika harus bercermin dari apa yang kulakukan.

Dalam redup cahaya subuh Angkot pun terus berjalan menyusuri jalan beraspal lebih dari 20 km, melawati luasnya sawah yang membentang, menghampiri desa demi desa yang masih lelap dalam selimut kabut tebal. Dan akhirnya sampailah di terminal Puring. Suasananya masih sepi, hanya tukang ojek dan tukang becak yang mendekati angkot. Menawarkan jasa tumpangannya. Namun aku berjalan menuju seorang yang sudah siap dengan sepeda motornya. Seorang yang sudah sangat kukenal, tak kan kulupa pengalaman bersamanya. Dialah Bapakku.

Sepeda motor ini membawa kami bertiga meneruskan perjalanan yang sempat terhenti. Bapak di depan mengendarai motor. Aku di tengah, Lilik di belakang. Rumah Lilik terletak sejalur dengan rute jalan menuju rumahku. Kami mengantarkan beliau dulu.

Dalam temaram cahaya bulan kulihat persawahan padi yang sudah menguning. Oh rupanya sudah musim panen tiba. Sepeda motor berbeloik kiri dan di pertigaan lurus kemudian kiri lagi, jalan ini. Hatiku semakin berdebar-debar, ini jalan menuju rumahku. Di bagian dalam sudah gelap. Sepertinya masjid sudah ditinggalkan jamaah subuh. Hanya ada empat anak perempuan yang masih betah mengaji di bagian serambi masjid. Alangkah senangnya, masjid ada adik-adik santri yang mau mengaji di masjid walaupun hanya tersisa empat orang.

Masjid Baitul Muttaqin namanya. Masjid yang telah menajadi saksi dan sahabat sejak aku masih kecil, masjid itu sudah menjadi rumah bagiku. Bagaimana nasibmu kini, semoga engkau masih kokoh berdiri, menemani hamba-hamba yang muttaqin, seperti namamu, Masjid Baitul Muttaqin.

Suasana masih sepi, dan di atas sana masih ada cahaya bulan tanggal 18, walaupun tampak separuh saja namun masih terang dengan cahayanya yang indah.

To be continued/bersambung-

3 thoughts on “Pulang Kampung; Mencari Spirit yang Hilang (I)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s