Journey to GARUT


Garut

Garut


Jam 23.00 kami berangkat dari Bumi Asri menuju perempatan Kopo untuk menunggu mobil yang menuju ke garut. Jadwal keberangkatan biasanya jam 24.00 tapi sejam kemudian mobil itu baru datang. mobil sudah penuh dengan penumpang, dan kami duduk di belakang. Kupejamkan mataku karena tak kuat menahan kantuk, saat kubuka mataku mobil sudah berhenti di sebuah tempat, ada sederetan warung makan. Alhamdulillah sudah sampai di garut. Jam sudah menunjukkan angka 04.15, tandanya sebentar lagi subuh. Sambil ‘ngulet’ kami pun turun dari mobil.
” Sudah sampai mana Ko? Masih lama nggak nyampai rumah?”
” Masih jauh”
ooo…
“Nyari masjid yuuk..!”

Cisompet 05.30
turun dari mobil

Walaupun ada ojek dan gak becek kami memilih jalan saja, ya namanya jalan2 ya enaknya jalan beneran, udara juga masih segar, masih pagi kene. Jalan kaki mungkin melebihi 2KM, wah pusing diajak muter2 sama Koko. Tapi senang juga jalan2 lewat pematang sawah, sambil melihat sawah yang luas membentang. Di tengah perjalanan  disambut gerimis kecil.

Alat transportasi umum yang digunakan yaitu motor dan mobil angkutan. Namun masih jarang jumlahnya. Sepeda tidak digunakan karena kondisi jalannya yang naik turun. Wah capeek dech

Yang cukup menarik perhatian saya yaitu rumah2 di di sini. (secara saya kuliah di arsitektur, gitu lho) Sesuai pelajaran  yang saya dapat di kuliah. Rumah-rumah itu menggunakan sistem panggung, tidak menempel langsung ke tanah. Ada sebuah batu yang menopang kolom-kolomnya. Dindingnya dari anyaman bambu dan bagian bawah memakai papan kayu. Atap berbentuk pelana dan perisai dengan penutupnya berupa genteng. Bagian depan, ada pintu masuk dan beberapa jendela. Bagian depan ini berbeda dari sisi yang lain, diberi aksen agar semakin menambah eksotis bangunan rumah. Rumah unik di daerah pegunungan.  Rumah yang fungsional dan ramah lingkungan. Semua karakter itu merupakan respon dari keadaan geografis, iklim, budaya, dll. Tidak hanya rumah yang mempunyai bentuk tipikal sama, masjid-masjid disini juga mempunyai tipikal yang sama.

Sejam kemudian.

ANJ, Akhirnye Nyampe Juge di rumah Koko.😀
“Mang Koko……….!” terdengar teriakan seorang anak lelaki sekitar 2 thn lbh. Berlari mendekat dan memeluk Koko. Dan Koko pun menciumnya. so sweet.. Oh keponakannya, namanya Pasha 😀 Di dalam rumah ada Teteh dan seorang anak perempuan umurnya 5 thn,’Mia’ keponakannya juga.  Sekitar jam setengah sembilan saya baru bertemu Mak dan Abah, orangtua Koko. Cerita pun tak berhenti dalam bahasa Sunda yang belum saya mengerti (abdi teu ngartos😦 ). Senyum pun selalu terpancar dari wajah mereka dan sesekali diiringi tawa ceria. Suasana keluarga yang hangat penuh kerinduan.

Pengalaman baru yaitu mandi di pancuran mewah (mepet sawah), awalnya saya merasa enggan banget, tapi demi menjaga kebersihan saya mau juga, lagian tempatnya tertutup. Seusai shalat dhuhur, kami jalan2 ke sungai Cisanggiri. Namun sebelumnya kami mampir dulu ke rumah paman dan adek. Air sungai Cisanggiri masih jernih dan segar pengen rasanya berenang tapi airnya lagi surut kalau mau berenang harus nyari ‘situ’. Asyik juga bermain air, menyeberangi sungai. Tak terasa waktu sangat cepat berputar, sore sudah menghampiri dan malam akan segera menjemput. Kami pun pulang. Seperti pagi tadi, Koko disambut oleh Pasha dan keponakannya yang tadi pagi blm sempat bertemu karena sedang bersekolah. Suasana rumah pun ramai riuh. Sayangnya saya tidak tahu apa yang mereka obrolkan karena saya belum bisa bahasa Sunda. Mungkin ini juga dialami oleh Koko ketika dulu dia ikut liburan di desaku di Kebumen.

Malam ini listrik padam, semakin menambah jelas sinar rembulan yang mengantar kami ke tempat wudlu. Indah dan terang langit malam ini. Penerangan rumah memakai lampu minyak sampai akhirnya listrik menyala kembali sekitar jam sembilan.

Dini hari, pukul 03. 15
Saya terbangun. Pulas juga tidur di rumah Koko. Bersama Koko menuju tempat wudlu. Alhamdulillah masih bisa melakukan beberapa rakaat qiyamul lail. Dilanjutkan shalat Shubuh berjamaah. Pagi ini terasa semangat sekali karena hari ini kami akan ke pantai pameungpeuk. Setelah packing dan sarapan kami pun berpamitan ke keluarga Koko. Rencananya setelah dari pantai kami langsung ke Bandung. Di dalam mobil angkutan kulihat wajah Koko yang sendu, kelihatannya masih sedih meninggalkan keluarga😦

Pameungpeuk 08.00

Di Pasar Pameungpeuk kami turun dan ganti mobil yang menuju ke laut. Aroma laut kian terasa ketika mobil mendekati perkebunan tebu. Seperti di Kebumen, Sawah2 di dekat pantai juga ditanami tebu. Dan beberapa menit kemudian mobil sudah memasuki kawasan Pantai Santolo. Keramaian pun terlihat di TPI(tempat Pelelangan Ikan) di sekitarnya terdapat warung makan dan penginapan. Pantai ini mempunyai teluk, yang digunakan sebagai pelabuhan para nelayan. Banyak kesibukan terjadi disini. Pagi hari merupakan waktu yang digunakan untuk pulang setelah semalaman melaut mencari ikan. Setiap hari pantai ini hidup dengan berbagai aktivitasnya.

Pantai yang kereen… dengan batu karangnya, lautnya luas membentang, di kejauhan tampak barisan bukit-bukit, suasana kehidupan Pantai Santolo dan aktivitas para nelayannya merupakan suatu pemandangan yang sungguh menakjubkan. Saya berharap semoga di akhirat nanti bisa menjumpai keindahan yang melebihi semua keindahan ini.

Senang bisa besilaturahim dengan keluarga besar Koko, ada Mak, Abah, Teteh2, adik2 n keponakannya yang banyak. Katanya kalau ngumpul semua ada 17 orang, wah banyak banget….
Nuhun pisan atas jamuannya,
Punteennn ya udah banyak ngrepotin..

Bahagia bisa liburan ke pantai Santolo (Pameungpeuk) yang indah n kereen bangeet…. Subhanallah walhamdulillah Wallahu Akbar

Kalau mau jalan2 inget2 pesan Koko ya “Dimana bumi dipijak disitu langit dijunjung.”

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa – bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (Q.S. Al Hujurat[49] : 13)

NB: maaf ya Ko, Foto2 nya belum bisa di upload semua.

5 thoughts on “Journey to GARUT

  1. Salam Hormat, Salam Senyum Kanggo Sedulur Kabeh
    Assalamu’alaikum Wr. Wb.
    Perkenalkan, Saya H.M.Jamil,SQ,MPd ingin meminta dukungan Saudara dalam pemilihan Caleg DPR RI PPP 2009 Dapil Kebumen, Banjarnegara & Purbalingga.
    Semoga bermanfaat bagi kita semua.
    Salam Hangat buat Keluarga Anda
    Wassalamu’alaikum Wr.Wb.

  2. buat kang mahesa kalo dari garut ada angkutan umum yang langsung kesana Elp “AND” jur Garut Pameungpeuk-Cikondang tapi cuman 2 jam 09.00 dan 11.00. kalo lebih dari itu udah gak ada,

    atau hub saya aja atu mas,, ntar bisa silaturahim dan bisa mampir ke Gubuk Kami

    he he

  3. Wah-wah serius amat ceritanya, tapi mohon maaf ya saya bersama keluarga gak bisa menghormati tamu dan belum bisa memberikan yang terbaik, semoga Allah membalas silaturahim nya dengan kebaikan yang besar. dan semoga pula kita tetap istiqomah untuk menjaga paesyahabatan kita, maafkan Saya ya mas kalo pulang dari sana badan nya jadi gatal-gatal…he he he

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s