Kenapa aku ada di dunia?


Ada beberapa pertanyaan yang belum aku fahami saat aku masih kecil, saat masih duduk di bangku SD. Pertanyaan itu sering muncul saat-saat melakukan perenungan, saat keadaan sedih, ataupun marah. Sedih karena berbagai keputus-asaan. Serasa hidup sangat hampa tak punya makna apapun.

Kenapa aku hidup?

Mengapa aku ada disini?

Mengapa aku dilahirkan ke dunia?

Untuk apa aku hidup?

Apa sebenarnya tujuan hidup?

Itulah pertanyaan yang harus kujawab. Sudah banyak jalan yang kulalui, banyak keputus-asaan yang kuhadapi. Alhamdulillah Allah masih sayang padaku. Saat Ebtanas SD ada ujian praktek, dalam pelajaran agama setiap siswa harus mempraktekan shalat. Malu rasanya jika shalat saja aku tidak bisa padahal pelajaran matematika dan ipa selalu dapat sembilan (maklum aku sering juara kelas🙂 ). Bayangkan shalat saja nggak bisa. Walaupun sebelumnya ibu sering menyuruhku shalat, entah kenapa aku selalu bandel nggak mau melaksanakannya. Dan sekarang aku harus menanggungnya. Alhamdulillah aku dipertemukan dengan sebuah buku, bukan hanya tentang shalat saja di dalamnya ada banyak hikmah. Dengan buku itulah Allah menuntunku untuk kembali mendekat pada-Nya. Sejak saat itu aku pun rajin melaksanakan shalat. Setelah itu aku pun kembali menimba ilmu keagamaan pada seorang ustadz di masjid dekat rumahku. Masjid yang sudah lama aku tinggalkan sejak kelas empat. Alhamdulillah di akhir pendidikan SD itu aku mendapatkan prestasi tertinggi untuk NEM bukan Cuma di SD-ku tapi di tingkat kecamatan. Rahasianya mungkin selain aku berusaha belajar dengan optimal, Allah mengakurniakan para guru dan seorang Ibu yang sangat rajin, ia selalu memotivasiku. Ibu sering berpuasa sunah dan mendoakanku saat ku mengikuti tes/ujian. Namun di balik semua itu yang paling membuatku bahagia adalah aku bisa kembali menemukan jalan hidayah, bisa kembali melaksanakan shalat.

Seiring berjalannya waktu, banyak ilmu dan hikmah yang kudapatkan. Dan pertanyaan lain pun muncul.

Apa makna kedewasaan?

Apakah dengan semakin banyak peran dan tanggung jawab yang bisa kita tunaikan kita sudah disebut dewasa?

Apakah orang yang dewasa itu harus bisa bergaul dengan banyak orang?

Atau orang yang dewasa itu mempunyai nilai manfaat tidak hanya bagi diri sendiri, tapi juga bagi orang lain di sekitarnya?

Apakah orang yang sudah menjadi pemimpin bisa dikatakan sudah dewasa?

Apakah seseorang disebut dewasa apabila ia bisa membedakan mana yang baik dan buruk, dapat menyesuaikan diri dimana pun ia berada, dapat mengambil keputusan kemana ia akan melangkah, dan menerima semua konsekuensi akibat dari semua tindakannya?

Benarkah, jika kedewasaan itu sebuah proses?

Proses yang berkembang seiring berjalannya waktu?

Proses yang harus dicari dan terus digali sampai mati?

Saya yakin jawaban dari semua pertanyaan itu banyak sekali dan kompleks. Lalu apa yang menjadi kesimpulannya dan apa yang harus kita lakukan?

Manusia itu makhluk yang sangat unik dan kompleks, tiap orang punya keunikan.Banyak ragam peran yang dijalani. Meskipun begitu mereka semua punya kesamaan.

Setiap manusia dilahirkan ke dunia dengan membawa perannya masing-masing.Namun semuanya mempunyai misi yang sama. Apa misinya? Misinya yaitu sebagai pemimpin/khalifah. Untuk mendukung misi tersebut, manusia sudah dibekali dengan akal pikiran dan hati. Inilah yang membedakan manusia dan makhluk lainnya. Lalu apa yang harus aku lakukan dengan akal pikiran dan hati? Didiamkan atau mau digunakan untuk apa? Apa yang sudah kulakukan dengan semua itu? Sudahkah aku menggunakannya sesuai dengan fungsinya?

Mengapa ada banyak pertanyaan? Dan kebanyakan itu adalah pertanyaan retoris. Namun punya makna yang tak biasa bagi diri saya sendiri, pertanyaan yang harus kujawab.

Masih ingatkah wahai para jiwa? Masa-masa kita berkumpul di suatu tempat yang tak ada batas. Tidak ada esok tidak ada kemarin tidak ada siangtidak ada malam tidak ada atas tidak ada bawah tidak ada timur dan tidak ada barat. La syarkiyah wa la gharbiyah. Kita berada dalam kelanggengan. Berada dekat dengan Yang Maha Langgeng. Roh kita sempat puas menatap wujud hakiki. Wujud tak terkira oleh pandangan mata biasa. Kita hanya bisa berkata ada. Ada dan yang ada. Tiada yang lain kecuali Yang Maha Ada. Kita bersaksi ketika kita tiada. (Abu Sangkan, Alastu)

Selamat berjuang wahai jiwa, selamat mengarungi perjalanan hidup yang penuh misteri di dunia yang singkat ini. Perjalanan singkat tapi sangat mementukan kehidupan kita di alam akhirat yang kekal abadi. Kemana kau akan menuju? Kebahagiaan sejatikah atau kesengsaraan selamanya. Di dunia inilah kesempatan kita untuk melakukan amal kebaikan tak ada kesempatan lagi saat raga ini berpisah dengan ruh. Bekal apa yang akan kita bawa untuk kembali menghadap-Nya? Semoga kita menemukan fitrah sejati, jiwa tenang dan bahagia dalam ridho Allah. Jiwa dan hati bersih yang hanya berserah diri pada-Nya. Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidup dan matiku, hanya untuk-Mu. Sesungguhnya aku adalah milik-Mu dan akan kembali pada-Mu.

shalat.jpg

10 thoughts on “Kenapa aku ada di dunia?

  1. Wa’alaikumsalam wr wb.

    Betul sekali saudaraku…
    Makasih atas tambahan ilmunya…
    (potensi manusia memang ada 3: akal, qalbu, raga).
    Semoga kita dapat menggunakannya secara optimal, beribadah hanya untuk Allah SWT.
    Semoga kita mendapat kebahagiaan di dunia dan akherat, Selalu dalam cinta-Nya. Amin.

    Selamat berjuang saudaraku!!!
    Allah selalu bersama kita…
    Bismillahirrahmanirrahim Allahu Akbar!!!

  2. Assalaamu’alaikum,,

    Sahabatq, tulisan yang subhanallah berisi pertanyaan sederhana tapi harus berpikir keras untuk menjawabnya. Memang seorang insan dikaruni akal untuk mencari ilmu, qalbu sebagai pembimbing, dan raga untuk mewujudkan akal dan qalbu tersebut. Tapi yakinlah bahwa hanya qalbulah yang menentukan baik buruknya seseorang. Jika ia rusak maka rusaklah semuanya, jika ia baik maka insya allah baik pulalah semuanya. Di Qalbu pulah tersimpan sejuta cinta kepada sang Khaliq, Allah Yang Maha Dahsya Cinta-Nya. Cinta yang membedakan antara orang beriman dengan orang kafir. Dan jika setiap aktivitas kita, setiap desah nafas kita, bisa menghadirkan cinta-Nya. Subhanallah, itulah karunia terbesar yang didambakan setiap insan. Sehingga dengannya, seorang insan mampu menjalankan amanah keberadaan ia di dunia yaitu beribadah kepada Allah.

    “Dan tidaklah Kami menciptakan jin dan manusia melainkan supaya beribadah kepada-Ku” (QS Adz-Dzaariyat:…)

    Tetap semangat dan jangan lupa saling nasihat-menasihati. Blogq ganti lim. jadinya miftachudin.blogspot.com. tapi masih kosongan. hehehe…

    Miftah
    “Le! Kuliah sing bener, ragade larang!”

  3. tulisan yg bikin ade hampir saja menangis. Pertanyaan yang bagi ade termasuk sulit utk dijawab. Kedewasaan, visi-misi kehidupan, karunia ALLAH..semua pertanyaan yang tidak bisa dijawab seenaknya. Pertanyaan yang mampu merubah kita seratus delapan puluh derajat. Jawaban dari itu semua cukuplah dijawab dalam hati. Jawaban atas pertanyaan retoris, namun terkadang butuh jawaban.
    Sekali lagi..hidup menentukan kehidupan kita kelak. Semoga ALLAH menguatkan ade dan aa-teteh dan semuanya di Jalan ALLAH. Teriring doa, dan diliputi rasa malu atas semua kesalahan ade. Mohon doanya ya A.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s