Mencari Sang Arsitek


the-taj-mahal-at-sunset-india.jpg

Hanya  akal-akal  raksasa  yang  tercerahkan  wahyu  yang siap menjadi pimpinan proyek peradaban kehenda Allah. Di mana mereka sekarang?

Tidak  ada  peristiwa  yang  lebih  mengharu-biru  kaum  Muslimin,  di sepanjang  masa  kenabian  dan  perjuangan Rasulullah Saw, selain saat dimana  beliau  menyampaikan  pidato dalam hajjatul wada’. Itulah haji pertama dan terakhir yang dilaksanakan Rasulullah saw sejak ibadah itu diwajibkan, menurut jumhur ulama, pada tahun keenam hijrah. Karena itu sebagian  besar  kaum  Muslimin  menyempatkan diri untuk berhaji tahun itu. Jumlah mereka sekitar 125 ribu orang.

Sementara   kaum  Muslimin  Merasakan  kegembiraan  mendengar  khotbah Rasulullah  saw,  Abu Bakar justru menangis tersedu-sedu. Ia menangkap dengan  jelas  isyarat yang tersimpan dalam kalimat-kalimat Rasulullah saw,  bahwa  masa  hidupnya  tidak  akan  lama  lagi.  Dan benar saja, Rasulullah  saw  kemudian  wafat  beberapa saat setelah hajjatul wada’ itu.  Itu seperti sebuah isyarat bahwa tugas beliau sudah akan selesai sampai  disini,  tapi  cita-cita  untuk  membawa  cahaya  Islam kepada seluruh umat manusia belum lagi selesai; dan adalah tugas para sahabat untuk melanjutkan risalah dakwah tersebut.

Kini, setelah lima belas abad kemudian, Islam menjadi fenomena sejarah sebagai sebuah peradaban terbesar yang pernah ada dan masih ada hingga saat  ini.  Islam tersebar di seluruh pelosok dunia, dari Aljir sampai Jakarta,  dengan  jumlah  pemeluk  sekitar  1,3  milyar  manusia, atau sekitar  seperlima  dari  total jumlah manusia yang menghuni bumi ini. Apabila  Rasulullah  saw  meninggalkan lebih dari 125 ribu orang, maka dari merekalah sesungguhnya Islam berkembang ke seluruh pelosok dunia. Tapi  dari jumlah itu, sebenarnya sebagian besar mereka masuk ke dalam Islam  justru  setelah  peristiwa  Fathu  Makkah  pada tahun kedelapan hijrah, atau 20 tahun setelah Rasulullah saw menjadi rasul.

Ini  berarti  bahwa  sahabat-sahabat beliau yang mempunyai peran besar dalam  penyebaran  Islam  dan  pembangunan  peradaban  Islam  tidaklah terlalu banyak. Jumlah ulama dari sahabat-sahabat Rasulullah saw dalam catatan  Ibnu  Qoyyim  al-Jauziyah  dalam  “I’lamul Muwaqqi’in”, hanya kurang  dari 110 orang. Dan diantara mereka yang terbesar ada 7 orang, diantaranya  adalah Umar bin Khattab, Ali Bin Ali Thalib, Abdullah bin Abbas,  Abdullah  bin  Umar, Abdullah bin Mas’ud. Sebagian besar ulama dan  pemikir  Islam  yang  lahir  kemudian,  dari kalangan Tabi’in dan Tabi’uttabi’in dan seterusnya, mengambil ilmu dari mereka.

Otak Arsitek

Peradaban  selalu  bermula  dari  gagasan.  Peradaban-peradaban  besar selalu  lahir  lahir  dari  gagasan-gagasan besar. Dan gagasan-gagasan besar  selalu  lahir  akal-akal raksasa. Begitulah kejadiannya, jumlah sahabat  yang  ditinggalkan Rasulullah saw memang sedikit, tapi mereka semua  membawa semangat dan kesadaran sebagai pembangun peradaban, dan membawa talenta sebagai arsitek peradaban.

Kesadaran itu terbentuk sejak dini dalam benak mereka. Allah swt telah menciptakan  manusia  untuk  beribadah  dan mengelola serta menegakkan khilafah  di  muka  bumi.  Dan  untuk  itu Allah swt memberikan mereka “juklak”  (petunjuk  laksana) berupa al-Qur’an, dan menurunkan seorang rasul  sebagai  “komunikator”  Allah  Swt,  sekaligus  sebagai pemberi contoh laksana dalam kehidupan nyata.

Sejak  awal  mereka  menyadari  bahwa  al-Qur’an  bukanlah sebuah buku filsafat  kehidupan, yang kering dan rumit, atau pikiran-pikiran indah yang  tersimpan  di  menara  gading  dan  tidak  mempunyai  alas dalam realitas kehidupan. al-Qur’an adalah sebuah “manual” tentang bagaimana seharusnya  kita  mengelola  kehidupan  di bumi ini. Bumi adalah ruang kehidupan  tempat  kita “menurunkan” kehendak-kehendak Allah swt, yang termaktub  dalam wahyu, menjadi satuan-satuan realitas dalam kehidupan manusia  di  muka  bumi.  Bumi  adalah  realitas kasat mata yang harus dikelola manusia.

Maka  doktrin  Al-Qur’an  tentang  Allah, Rasul, manusia dan kehidupan sejak  awal menegaskan sebuah kesadaran yang integral; bahwa kehidupan yang  sesungguhnya adalah akhirat, dan bahwa misi manusia di dunia ini adalah  ibadah,  tapi  ruangnya  adalah  bumi.  Karena  itulah  mereka mempunyai  kesadaran  yang  kuat  tentang  ruang; ruang di mana mereka hidup,  ruang  yang  menjadi  wilayah  kerja  akal  mereka, ruang yang menjadi tempat mereka menumpahkan seluruh proses kreatif mereka, yaitu bumi;  dan bahwa ada ruang lain yang bukan wilayah kerja mereka, ruang dimana  akal  mereka tidak akan pernah sanggup menembusnya, ruang yang menjadi  hak  Allah  Swt  sendiri  untuk  menjelaskannya,  yaitu ruang kegaiban,   yaitu   ruang   metafisik  di  mana  Allah  swt  menyimpan hakikat-hakikat  besar  dalam kehidupan ini, tentang Dzat-Nya sendiri, dunia malaikat, kehidupan akhirat, dan lainnya.

Kesadaran  tentang  ruang  ini  telah  menanamkan sikap realisme dalam benak  mereka,  maka  mereka bergerak lincah dalam wilayah itu. Proses kreativitas  mereka  tumpah ruah disini; dalam semangat merealisasikan kehendak-kehendak  Allah  Swt di muka bumi, dalam semangat memakmurkan dunia,  dalam  semangat  membangun  peradaban. Kesadaran tentang ruang sejak  awal  membuat  peran  intelektual  dan  kerja  pemikiran mereka terpola  dalam  kerangka  sebagai  arsitek  peradaban; bumi ini adalah lanskapnya,  dan wahyu adalah kehendak-kehendak Sang Pemilik Kehidupan yang  harus  diolah  menjadi  sebuah  master  plan dan maket, darimana kemudian  satuan-satuan  kerja  mengelola bumi menjadi rumah peradaban tempat manusia menemukan kedamaian dan kesejahteraan hidup, dimulai.

Dan  begitulah  Rasulullah  Saw memberikan tamsil, bahwa silsilah nabi dan rasul yang turun ke bumi ini seperti sebuah bangunan dimana setiap nabi  atau  rasul  menyelesaikan  satu  tahap  pekerjaan,  hingga tiba saatnya   Allah  menutup  mata  rantai  kenabian  dimana  “Aku,”  kata Rasulullah Saw, “meletakkan batu terakhir.”

Ijtihad: Mata Air Peradaban

Dalam  konteks  kesadaran  tentang ruang dan pemilihan peran subjektif sebagai pembangun peradaban, kerangka kerja intelektual manusia Muslim terpola  dalam fungsi-fungsi arsitektural dimana mereka bekerja sebagai  desainer, sebagai perancang, sebagai pembuat master plan. Dan begitulah  kemudian  sebuah  karya peradaban besar lahir ke bumi; satu milenium  lamanya  manusia  menikmati  sejarah mereka yang terindah di bawah  naungan  Islam.  Dalam fungsi arsitektural itulah metafor Iqbal menemukan   maknanya;   dimana   hutan-hutan   bumi   berubah  menjadi taman-taman kehidupan yang indah.

Dalam  fungsi  arsitektural  itu  juga  akal-akal Muslim tumbuh dengan kemampuan  berpikir  dan berkreasi yang luar biasa pada semua kategori dan  tingkatan kemampuan intelektual manusia; kemampuan memahami (daya serap),  kemampuan  menganalisa  (daya  analisis),  kemampuan mencipta (daya cipta).

Kemampuan  itulah yang misalnya terlihat dalam sejarah ekspansi Islam, khususnya  pada  masa  khulafa  rasyidin.  Dalam  bidang politik, masa ekspansi besar-besar yang terjadi selama 30 tahun masa keempat khulafa rasyidin    ini,   telah   disertai   dengan   peletakan   dasar-dasar ketatanegaraan;  bentuk  dan  sistem  pemerintahan  yang  berorientasi global  state  tapi  bersifat  desentralis, sistem pemilihan khalifah, sistem   administrasi   dan  keuangan  negara  yang  berkembang  pesat khususnya  dalam  pengelolaan wilayah-wilayah baru, manajemen konflik, dan  lainnya.  Dalam  bidang  keamanan  dan  geostrategi,  selama masa ekspansi  besar-besaran  ini  kita menyaksikan kejeniusan para khulafa dalam  pengokohan  integrasi teritorial dengan menjadikan jazirah Arab sebagai  basis,  strategi  ekspansi dan taktik perang dalam menghadapi dua kekuatan terbesar, Persi dan Romawi.

Kemampuan  akal-akal  Muslim  juga terlihat dalam perkembangan ijtihad dan  perkembangan  ilmu-ilmu  keislaman.  Usaha  menjaga kemurnian dan keotentikan  teks  al-Qur’an  telah  dilakukan melalui pengumpulan dan penulisan  mushaf pada masa Abu Bakar, dan standarisasi bacaannya pada masa  Utsman  bin  Affan.  Sementara  itu, usaha menjaga kemurnian dan keotentikan  Sunnah  telah  melahirkan satu metodologi baru yang tidak ada tandingannya dalam semua peradaban lainnya. Selanjutnya dari kedua sumber  itu  kemudian  lahir  berbagai  macam ilmu-ilmu keislaman yang struktur  dan content yang mandiri dan solid, khususnya ilmu fiqh yang menjadi induk pengetahuan keislaman ketika itu.

Selain   perkembangan   ilmu-ilmu  keislaman,  kita  juga  menyaksikan perkembangan   ilmu-ilmu  sosial,  khususnya  yang  bersifat  terapan. Misalnya ilmu jiwa yang berkembang secara terapan melalui perkembangan ilmu   suluk  dan  akhlaq.  Ilmu  politik  dan  ekonomi  yang  melalui serangkaian   ijtihad  politik  yang  timbul  sebagai  implikasi  dari perluasan   wilayah  Islam.  Ilmu  sejarah  dan  sosial  mungkin  yang berkembang  paling  pesat,  khususnya setelah pembauran berbagai etnis dan budaya selama masa ekspansi. Bahkan pengalaman panjang dalam jihad dan  perang telah diformulasi oleh kaum Muslimin menjadi ilmu strategi dan taktik perang.

Demikian  juga  dalam  bidang  teknologi. Teknologi maritim, misalnya, telah  berkembang  pada  masa Utsman bin Affan sejalan kebutuhan jihad untuk  menghadapi  Romawi  yang menguasai teknologi itu. Demikian juga industri  militer  lainnya  yang  berkembang  untuk memenuhi kebutuhan jihad.  Selain  teknologi  terapan, ilmu-ilmu eksakta, khususnya dalam bidang fisika dan kedokteran, telah berkembang pesat khususnya setelah kaum  Muslimin  menemukan  dan  mengembangkan metodologi empiris, yang hingga  kini  menjadi  sebab  perkembangan  ilmu pengetahuan di Barat, justru ketika Romawi menggunakan pendekatan teologi dan filsafat untuk ilmu-ilmu eksakta.

Apa  yang  ingin  ditegaskan  disini adalah bahwa, kemampuan akal-akal Muslim tidak hanya pada daya serapnya yang sangat besar terhadap semua jenis  ilmu  pengetahuan,  tapi  juga  kemampuannya  dalam mengkritisi ilmu-ilmu  baru yang sampai ke mereka, dan kemudian kemampuannya dalam merekonstruksinya  kembali,  dan  bahkan  kemampuannya  dalam mencipta ilmu-ilmu baru atau metodologi baru. Dalam konteks itulah kita melihat bagaimana konsep ijtihad dalam Islam telah mewadahi proses kreativitas akal-akal  Muslim,  dan karenanya, kemudian menjadi mata air peradaban Islam  yang tak pernah kering. Akal-akal Muslim itu, dengan kata lain, mampu  memahami  zamannya,  dan  sekaligus memberi sesuatu yang kepada zamannya.

Dimanakah Sang Arsitek Itu Kini?

Tapi dimanakah akal-akal besar yang pernah menggoncang peradaban dunia dengan  temuan-temuannya  itu?  Di  manakah akal-akal Muslim yang dulu sanggup  memahami zamannya dan kemudian memberi sesuatu yang baru bagi zamannya?

Inilah  masalah  kita.  Akal-akal  Muslim sekarang, bukan hanya tampak tidak  berdaya  memahami  zamannya,  apalagi memberi sesuatu yang baru bagi  zamannya,  tapi  bahkan  tidak sanggup memahami dirinya sendiri, tidak   sanggup  memahami  sumber  ajarannya  sendiri,  tidak  sanggup memahami  warisan  peradabannya  sendiri.  Akal-akal  Muslim  sekarang tampak mengalami kelumpuhan. Tapi apakah yang membuatnya lumpuh?

Ini bagian paling krusial dari keseluruhan problematika umat kita yang terkait  dengan  masalah  manusia  Muslim.  Lumpuhnya akal-akal Muslim telah  menyebabkan kita kehilangan mata air peradaban. Ketika generasi kemunduran  menutup  pintu ijtihad, maka mereka telah menutup mata air peradaban.  Dan  kekeringan  inilah  yang  kini  kita warisi dan belum sanggup  kita  selesaikan, sehingga kita menjadi komunitas global yang hanya  hidup di pinggiran sejarah, serta tidak mempunyai campur tangan dalam berbagai peristiwa dunia kecuali hanya sebagai korban.

Kebesaran  sejarah akal-akal Muslim yang telah saya sebutkan, bukanlah tempat  yang  baik  untuk  melindungi kelumpuhan akal-akal Muslim saat ini.  Tapi  apabila  Allah  Swt  telah  menetapkan bahwa Ia tidak akan merubah keadaan suatu masyarakat sampai masyarakat itu sendiri merubah dirinya  sendiri,  maka  sekarang kita mengetahui bahwa perubahan atas diri  sendiri itu harus dimulai dari sini; merubah cara berpikir kita, dan   merekonstruksinya   agar   ia   mampu   mengemban  fungsi-fungsi arsitektural  kembali,  agar ia mampu merubah hutan-hutan bumi menjadi taman-taman kehidupan yang indah.

Apa  yang  harus  kita  lakukan untuk itu adalah memperbaiki cara kita memahami  sumber-sumber  ajaran kita, Qur’an dan Sunnah, serta warisan intelektual  dari  peradaban  kita. Dengan begitu kita dapat menemukan sistem  dan  metodologi  pemikiran kita sendiri, untuk kemudian secara kritis  dan independen berinteraksi dengan realitas zaman kita, dengan segala  muatan  peradabannya,  dan  selanjutnya  menemukan jalan untuk merealisasikan kehendak-kehendak Allah Swt dalam kehidupan kita. Dalam di tengah jalan itulah kita menciptakan semua yang kita perlukan untuk sampai  ke  titik  akhir  tujuan kita; dimana ada hutan belantara yang menjelma jadi taman kehidupan yang indah. (M Anis Matta)

———————————————
Majalah Suara Hidayatullah : September 2001

dudung.net

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s