Menulis dengan Cinta


Tulisan ini saya dapat ketika saya menjadi panitia sekaligus peserta workshop “Creating Future Writers” yang dilaksanakan di SMAN 1 Bandung pada tanggal 21-22 Juni 2007.

Menulis dengan Cinta

Beberapa Hal tentang Menulis dengan Baik dan Sukses 

Menulis selalu berkaitan dengan dua hal: bentuk dan isi. Secara bentuk ia harus “menarik”, secara isi ia hendaknya “mengandung sesuatu  yang mencerahkan”­­­—walaupun  tentu saja dua hal ini bisa ditafsirkan amat luas. Pendeknya, tulisan yang baik (entah berupa fiksi maupun non fiksi: cerpen, novel, esai, artikel, makalah, surat cinta, laporan jurnalistik, atau puisi) hendaknya bukan saja menarik dibaca, tetapi juga mengandung kedalaman sehingga berpotensi “memberi sesuatu” kepada para pembacanya.

Lalu bagaimana agar bisa menulis dengan baik?

Untuk bisa menulis dengan baik dan memiliki kedalaman, seorang penulis hendaknya menulis dengan semacam “rasa cinta”—gairah dan rasa senang dalam menulis dan berkarya.Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam menulis dan proses kepenulisan:

v   Seorang penulis harus memiliki kecintaan terhadap dunia tulis menulis dengan segala pernak-perniknya. Jangan menulis karena terpaksa atau karena hanya ingin coba-coba. Sesuatu yang tidak dilakukan dengan sungguh-sungguh alias setengah-setengah tidak mungkin menghasilkan sesuatu yang luar biasa. Tanya pada hati kita, apa sebetulnya niat kita menulis. Menulislah dengan cinta.

v   Seorang penulis harus mau banyak membaca. Bacalah bacaan-bacaan yang baik untuk memperkaya gizi kreatif kita. Output pasti sebanding dengan input.

v   Seorang penulis harus menguasai kaidah-kaidah dasar berbahasa dan tata cara penulisan: bagaimana menyusun kalimat yang jelas, bagaimana menulis kalimat yang efektif, bagaimana penulisan kata dan tanda baca yang benar.v   Pelajari dan kuasai teknik-teknik menulis, lalu latihlah keterampilan menulis tanpa kenal lelah dan pantang putus asa (misal dalam menulis cerpen: menentukan pokok gagasan, membangun kerangka, penokohan, alur cerita, membuat lead, konflik, memutuskan ending, show it, don’t tell it).

v   Mulailah menulis sekarang juga, jangan ditunda-tunda atau mencari-cari alasan hanya untuk menutupi kelemahan kita sendiri. Jangan salahkan ilham yang tak kunjung datang.

.………….

Jangan Berhenti Menulis

Menulis adalah sebuah kerja kreatif yang bersifat individual. Seseorang yang berniat menjadi penulis harus siap dengan segala proses berliku yang menyertainya. Selain itu, terlepas dari persoalan publikasi karya dan puja-puji khalayak, sesungguhnya tugas pribadi seorang penulis adalah terus bersetia menulis, berani bergelut dengan segala prosesnya, serta tak letih menjelajahi berbagaikemungkinan demi mencapai hasil terbaik.

Bertentangan dengan orang-orang berpandangan sempit yang menganggap bahwa tulisan kreatif (cerpen, novel atau puisi) hanyalah sesuatu yang tidak serius dan hanya buah khayalan saja, bagi saya karya tulis, karya sastra, adalah sesuatu yang berharga—sama-sama berharganya dengan cabang-cabang kebudayaan lainnya. Sebuah tulisan yang baik adalah karya seni yang hanya bisa tercipta dari kecerdasan pikiran dan kepekaan hati. Ia memiliki daya tarik, sekaligus berpotensi memperkaya batin para pembacanya.

Seperti pernah dikatakan pengarang terkemuka kita Pramoedya Ananta Toer suatu kali, teruslah menulis, tak peduli apakah tulisan kita ada yang mau mempublikasikan atau tidak. Yakinlah, suatu hari karya itu akan ada gunanya. Keberhasilan adalah buah kerja keras, bukan karena keberuntungan atau nasib baik. 

Anton Kurnia, penulis cerpen dan esai, buku cerpennya berjudul Insomnia (2004). Ia juga menulis Ensiklopedia Sastra Dunia (2006). Kini ia bekerja sebagai Chief Acquistion Editor di Penerbit Serambi, Jakarta. Tulisan ini merupakan semacam makalah yang disampaikan dalam workshop bertema “Creating Future Writers” di Bandung, 22 Juni 2007. 

100_5243.jpg        100_5089.jpg 

100_5124.jpg

Selesai……. 🙂

Ganbatte..!!!

animation-018.gif

3 thoughts on “Menulis dengan Cinta

  1. Alhamdulillah.
    Semoga bermanfaat.

    Salam kenal jg Kang Fakhrurrozy🙂
    Makasih dah berkunjung kesini.

    Oya ada tambahan untuk istilah “show it, don’t tell it”
    kalau itu contohnya sprt ini: misalkan untuk sebuah cerpen, kita mau menceritakan seseorang sedang sedih maka yang kita tulis sesuatu yang ‘menggambarkan’ dia sedang sedih.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s